Kala itu pagi bersenandung
Diselingi iringan musik alam, ombak diam-diam menikmati
Bersandar pada dinding jurang dan putihnya tepian
Lalu terbang menunggang sayap kiri burung elang
Sungguh, semua berwarna dan enggan untuk menghitam
Atau memutih sendiri
Atau abu
Atau coklat atau merah atau kuning saja
Atau polos atau sepi atau sangat sunyi
Terbahak-bahak supaya tidak dibisik-bisik
Supaya kelihatan kalau malam, bintang tetap jadi periang
Lalu terang, lalu manis, dan cantik
Namun, akankah kisah berkesudahan oleh kesaksian udara yang lembab?
Dan seratus ribu kaki jauhnya diterpa terik matahari yang sama
Akankah waktu membantuku mencarikan jawaban?
Tetapi aku bukan orang yang putus asa ketika kamu adalah perjalananku
Dear diary, oh yes oh no
Kamis, 23 Februari 2012
Senin, 12 Desember 2011
Seperempat Kisah
Kalau buku jariku sudah kelu
Sampai pilu
Kalau rahang sudah mampu telan rindu
Dan hati mulai saru
Salahkan pada yang telah bungkamkan suasana kocak itu
Teriakkan keras-keras pada dawai yang mengeluh alunan syahdu
Geramlah dengan lembab yang buat kantuk mengelu-elu
Tanyakan pada jam dinding yang berkarat
Aku yang telah menaruh banyak asa
Minta ampun
Aku geram dan kalut
Aku dingin dan takut
Kini kami sebuah memo
Tulus tetap tak berubah haluan
Semoga nyanyian pagi tak lagi sendu
Sampai pilu
Kalau rahang sudah mampu telan rindu
Dan hati mulai saru
Salahkan pada yang telah bungkamkan suasana kocak itu
Teriakkan keras-keras pada dawai yang mengeluh alunan syahdu
Geramlah dengan lembab yang buat kantuk mengelu-elu
Tanyakan pada jam dinding yang berkarat
Aku yang telah menaruh banyak asa
Minta ampun
Aku geram dan kalut
Aku dingin dan takut
Kini kami sebuah memo
Tulus tetap tak berubah haluan
Semoga nyanyian pagi tak lagi sendu
Minggu, 11 Desember 2011
Bunga Kembar
Kata yang indah bisa merobek suatu masa
Aku tak tahu sampai mana ujungnya
Sampai kisah sepi
Ini yang dinamakan kasih
Sampai waktu rela ikut berkorban apa-apa
Sampai nanti jatuh dalam nafasnya
Lubang yang dalam, hitam, gelap, dan indah
Aku cuma berdoa
Cuma bisa berharap
Buah linglungnya tolong direda!
Sampai nanti kita menangis sama-sama
Di bawah kesukaan kita, malam cerah dibisik ombak
Aku tak tahu sampai mana ujungnya
Sampai kisah sepi
Ini yang dinamakan kasih
Sampai waktu rela ikut berkorban apa-apa
Sampai nanti jatuh dalam nafasnya
Lubang yang dalam, hitam, gelap, dan indah
Aku cuma berdoa
Cuma bisa berharap
Buah linglungnya tolong direda!
Sampai nanti kita menangis sama-sama
Di bawah kesukaan kita, malam cerah dibisik ombak
Kamis, 24 November 2011
Romansa
Yang indah itu akan datang. Pasti datang. Datang.
Yang indah itu kadang-kadang. Dan indah itu cinta. Basi.
Itu cuma buat mereka. Dan sebuah pertanyaan, apakah mereka pernah mencintai ibunya?
Kamu tahu apa itu degup jantung? Bukan.. Bukan grogi. Melainkan apa yang biasa diterka-terka. Benar kan?
Kalau mengenai aku di dekatmu, aku hanya ingin jadi tenang. Bukan.. Bukan mengenai kamu duduk sambil sama sekali tidak buat gaduh. Bukan mengenai kamu duduk melihat satu titik hingga malah muncul banyak pertanyaan. Aku cuma mau bersyukur, lalu jadi tenang. Bersyukur karena di dalamnya masih ada yang mampu tertawa sampai puas sampai aku ketularan. Bersyukur karena sedang ada sederet irama nafas menyerupai tertawaan sambil kelihatan giginya. Bersyukur karena masih ada mata yang tertawa meskipun bibirnya cuma bisa menyungging. Bersyukur meskipun di bagian ini latar dibuat menjadi demikian sunyi tapi masih ada nafas yang mampu terbaca, dia cuma sedang senang. Dan bersyukur masih ada yang memperhatikan aku ketika sedang nyenyaknya tidur di dalam bus kota. Mengerti maksudku?
Kalau perihal cinta yang tadi, aku bukan jagoannya. Kalau sedang melamun, yang sering dipikirkan, bagaimana cara menyusunnya supaya indah lalu kelihatan sempurna. Sulit, ya? Memang. Dan masih sering muncul sampai sekarang pertanyaan itu. Dan aku berani-beraninya membuat tulisan, bukan berarti aku sudah tahu apa yang mesti dilakoni.
Sabtu, 19 November 2011
Pertanyaan
Kadang-kadang mata saya buram. Wajah saya pasi membeku. Sulit untuk menutup telinga ketika merasakan segala sesuatu tidak lagi menjadi baik, dan hanya ingin melarikan diri.
Mungkin ketika seseorang datang menyandang senasihat, saya hanya lebih berpikir apa yang dibuatnya, apa tidak merasakan hal serupa? Apa mereka orang yang baik untuk berpura-pura? Kami mungkin sadar, tidak ada yang mampu berdiri satu kaki sampai yang tidak punya kaki yang tetap masih bisa berdiri sekalipun, kami perlu berbicara. Apa tidak ingin menjadi nyaman ketika ada hal yang perlu untuk dibagikan? Maksudnya, tidakkah seharusnya bersahabat akan menjadikan kami lebih kuat? Kenapa harus ada yang diuntungkan kalau itu membuat hati tidak bahagia? Apa mereka akan melakukan hal serupa?
Kadang menjadi gagah adalah hal yang perlu, tapi haruskah sampai menohok layaknya jin yang suka menghasut wanita lalu dijebloskan masuk ke neraka? Siapa yang jadi sial? Jadi siapa yang lebih rusak matanya? Sampai katarak, gendang telinganya mau pecah, rongga dadanya berkabut sampai batuk-batuk, kemudian hatinya tidak bekerja lagi. Apa mereka tidak pernah menangis? Sebenarnya, apa yang mereka mau dari dunia ini? Buat apa pura-pura lagi?
Langganan:
Komentar (Atom)